Valentine itu haram??

on Minggu, Februari 13, 2011

Valentine,, kata ini mungkin sering kita dengar dalam kehidupan sehari2.. Valentine nyata nya adalah sebuah budaya negara barat yg masuk ke dalam kehidupan kita.. Di zaman dengan globalisasi seperti saat ini, memang sulit menolak pengaruh dari budaya barat.


"Kalau tidak salah" beberapa waktu yg lalu, MUI telah mem-fatwa bahwa Valentine haram untuk dirayakan jika cara merayakannya menyimpang.

Kenapa Valentine diharamkan ? kita coba tilik dari segi fungsi dari valentine ini.


Dari segi sejarah sudah jelas bahwa itu bertentangan dengan aqidah yang selama ini diajarkan oleh agama Islam. Dalam Islam tak mengenal tentang hari kasih sayang, karena dalam pandangan Islam kasih sayang bisa diberikan oleh siapa saja dan kapan saja dan yang pasti masih berada dalam garis-garis hukum Syariat Islam. Nah untuk segi fungsi, tentu Peringatan Valentine days tidak memberikan efek manfaat yang positif, bahkan cenderung negarif. Mengapa ? karena dengan Valentine Days akan lebih banyak perbuatan maksiat yang akan terjadi kepada kaum muslimin dan muslimah ..

Ada juga yg menyebutkan bahwa Valentine tidak haram,, tapi cara perayaan nya yg haram,, seperti :
1. Menghambur-hamburkan uang untuk membeli hadiah kepada seseorang.
2. Melakukan tindakan perzinahan seperti berciuman, dll.
3. Mengabaikan hal2 lain yang lebih penting,, hanya untuk merayakan hari tersebut.

Selain itu ada beberapa sebab2 lain, yg menyebabkan kita tidak sepatutnya merayakan valentine. :

1.Valentine Berasal dari Budaya Syirik.

Ken Swiger dalam artikelnya “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan, “Kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang berarti, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa”. Kata ini ditunjukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi”.

Walhasil, semangat Valentine ini tidak lain adalah semangat yang bertabur dengan simbol-simbol syirik yang hanya akan membawa pelakunya masuk neraka,
naudzu billahi min zalik.



2. Semangat valentine adalah Semangat Berzina

Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran sikap dan semangat. Di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukanlah sebuah nafsu. Nah,, cacat kan,, apa kasih sayang harus dilakukan dengan cara seperti itu??

Orang barat memang tidak bisa membedakan antara cinta dan zina. Ungkapan make love yang artinya bercinta, seharusnya sedekar cinta yang terkait dengan perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu bahwa makna make love atau bercinta adalah melakukan hubungan suami - istri alias zina.

Di dalam syair lagu romantis barat yang juga melanda begitu banyak lagu pop di negeri ini, ungkapan make love ini bertaburan di sana sini. Buat orang barat, berzina memang salah satu bentuk pengungkapan rasa kasih sayang. Bahkan berzina di sana merupakan hak asasi yang dilindungi undang-undang.

Di barat, zina dilakukan oleh siapa saja, padahal Allah SWT berfirman tentang zina, bahwa perbuatan itu bukan hanya dilarang, bahkan sekedar mendekatinya pun diharamkan.
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk".



Jadi bagi yang merasa perayaan itu haram jangan merayakan, namun bagi yang merasa ada manfaat dibalik perayaan itu dan tidak bertentangan dengan agama, rayakan saja. Terserah kalian,, yang menanggungnya juga kalian sendiri. 


Kalau saya lebih baik tidak merayakannya, daripada beresiko menangung dosa,, lagian kalo mau ngerayain sama siapa? wkwkwkwk.. 
Udah ah, intinya, terserah anda sendiri mau merayakan atau tidak, mau menganggapnya haram atau tidak. Toh, semuanya kembali ke diri masing-masing.

0 komentar:

Posting Komentar